Menjaga Warisan Pemikiran
untuk Indonesia
Yayasan Padi Kapas Indonesia didirikan untuk melestarikan dan menghidupkan kembali warisan intelektual Dr. Sjahrir — ekonom, aktivis, dan pemikir yang mendedikasikan hidupnya untuk keadilan sosial.
Makna Padi & Kapas
Padi (beras) dan Kapas (katun) adalah lambang Sila ke-5 Pancasila — Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
Padi melambangkan pangan, Kapas melambangkan sandang — keduanya mewakili pemenuhan kebutuhan dasar manusia. Dr. Sjahrir memilih nama ini karena seluruh karya intelektualnya berpusat pada kebutuhan dasar dan keadilan ekonomi.
Disertasi doktoralnya di Harvard berjudul "The Basic Human Needs in Indonesia" — nama yayasan ini menyandikan filosofi inti beliau.
Visi
Mewujudkan masyarakat Indonesia yang berdaulat secara intelektual melalui penguatan nalar dan akal sehat.
Misi
Memberikan edukasi literasi kritis, mempromosikan diskusi publik yang berbasis data, serta menjaga warisan pemikiran Dr. Sjahrir dalam bidang ekonomi dan sosial.
Dr. Sjahrir
24 Februari 1945 – 28 Juli 2008
Warisan Intelektual Dr. Sjahrir
Lahir di Kudus, Jawa Tengah, Dr. Sjahrir adalah putra dari keluarga Minangkabau (Koto Gadang, Sumatera Barat) yang sangat menghargai pendidikan. Ayahnya, Ma'amoen Al Rasyid, adalah lulusan STOVIA dan pejabat tinggi pemerintahan. Ibunya, Roesma Malik, lulusan Syracuse University, bekerja di Departemen Pendidikan.
Setelah menyelesaikan pendidikan di Kolese Kanisius Jakarta dan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Sjahrir mendapat beasiswa Ford Foundation untuk melanjutkan studi di Harvard. Namun nasib berkata lain — ia ditangkap dalam peristiwa Malari 1974 dan mendekam sebagai tahanan politik selama sekitar empat tahun.
Setelah dibebaskan, Ford Foundation menepati janji beasiswanya. Sjahrir meraih gelar PhD dari Harvard Kennedy School pada 1983, dengan disertasi berjudul "The Basic Human Needs in Indonesia" — sebuah karya yang menjadi fondasi pemikiran ekonomi kerakyatannya.
Sepulang ke Indonesia, beliau menjadi dosen di Fakultas Ekonomi UI (1984-1998), mendirikan Yayasan Padi & Kapas yang pertama (1987), serta ikut mendirikan ECFIN (Institute for Economic and Financial Research) bersama Mari Elka Pangestu pada 1989.
Di akhir hayatnya, Dr. Sjahrir menjabat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) di era Presiden SBY. Beliau wafat pada 28 Juli 2008 di Singapura. Tanggal wafatnya dipilih sebagai hari peluncuran Yayasan Padi Kapas Indonesia pada 2025.
Perjalanan Hidup
Dari 1987 ke 2025
Yayasan Padi & Kapas pertama kali didirikan oleh Dr. Sjahrir pada tahun 1987 sebagai lembaga riset, pendidikan, dan kesehatan publik. Pada tahun yang sama, yayasan ini melahirkan Sekolah Ilmu Sosial (SIS) — sebuah sekolah ilmu sosial non-akreditasi yang menghadirkan intelektual terkemuka seperti Ignas Kleden, Arief Budiman, Emmanuel Subangun, dan Salim Said sebagai pengajar. Aktris Christine Hakim tercatat sebagai salah satu muridnya.
Pada 28 Juli 2025 — tepat 17 tahun setelah wafatnya Dr. Sjahrir — Yayasan Padi Kapas Indonesia diluncurkan kembali di Main Hall Bursa Efek Indonesia, Jakarta, oleh Luhut Binsar Pandjaitan selaku Ketua Dewan Pembina.
Peluncuran ini dihadiri oleh mantan Wakil Presiden Boediono, Chatib Basri, Rocky Gerung, Mari Elka Pangestu, Direktur BEI Iman Rachman, dan tokoh-tokoh lainnya. Acara bertema "Merawat Indonesia dengan Akal Sehat: Sumbangsih Dr. Sjahrir untuk Negeri" menandai kelahiran kembali semangat intelektual yang sama — kini dengan misi yang lebih luas dan relevan.